(13) Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang. (14) Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. (15) Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu. (16) Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga."
Tujuan : Supaya umat dapat:
Yesus mengatakan bahwa "Jika garam menjadi tawar, maka ia tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang.... Terang itu harus bercahaya, dapat menerangi orang."
Tujuan : Supaya umat dapat:
- Memahami arti identitas ke-Katolik-an.
- Menyadari pentingnya menunjukkan identitas keKatolikan di tengah masyarakat.
- Mewujudkan identitas keKatolikan di tengah masyarakat.
Identitas adalah ciri khas yang membedakan seseorang atau sesuatu dari yang lain, termasuk karakter atau kepribadian yang dipengaruhi oleh lingkungan dan budaya tempat seseorang tumbuh. Identitas Katolik merujuk pada bagaimana Injil Yesus dihidupi dan diungkapkan dalam kehidupan dan budaya seseorang, serta menjadikannya "saksi Kristus yang hidup".
Identitas ini lahir dari pertemuan antara iman dan realitas kehidupan sehari-hari. Allah menghendaki agar dunia diatur berdasarkan martabat manusia dan nilai-nilai iman. Gereja, sesuai ajaran Konsili Vatikan II (GS Art. 76), menekankan pentingnya partisipasi aktif umat Katolik dalam kehidupan masyarakat untuk memajukan kesejahteraan umum, menghormati hak asasi manusia, dan menciptakan tatanan dunia yang adil dan damai.
Umat Katolik dipanggil untuk berperan aktif di berbagai bidang kehidupan, dengan mengedepankan keadilan, kebenaran, dan kesejahteraan bersama. Kita juga diundang terlibat dalam gerakan ekumenis sebagai bagian dari kesatuan hati yang dikehendaki Tuhan (bdk. LG 1-4).
Umat Katolik harus menjadi agen perubahan yang membawa pengaruh positif bagi masyarakat, seperti yang digambarkan dalam Injil—menjadi garam dan terang dunia. Dengan menjadi saksi Kristus yang hidup, umat Katolik menyebarkan pesan kasih, damai, pengharapan, komitmen untuk mewujudkan dunia yang beriman dan bermartabat.
Yesus mengatakan bahwa "Jika garam menjadi tawar, maka ia tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang.... Terang itu harus bercahaya, dapat menerangi orang."
Godaan dan tantangan Menjadi “garam dan terang dunia” adalah:
- Godaan untuk berkompromi dengan nilai duniawi:
- Godaan akan materialisme dan kesibukan duniawi: nilai-nilai yang bertentangan dengan ajaran Injil, seperti materialisme, egoisme, dan relativisme moral demi penerimaan sosial atau kenyamanan pribadi.
- Kurangnya pemahaman dan kedalaman Iman: menjadi sombong secara rohani, merasa diri lebih suci, dan lupa bahwa segala yang kita lakukan adalah karena kasih karunia Tuhan, bukan semata-mata hasil usaha kita.
- Rasa takut atau malu menyatakan Iman:
- Menyembunyikan identitas iman: tidak berani berbicara tentang Kristus dan ajaran Gereja dalam lingkungan yang mungkin tidak mendukung.
- Menutup mata terhadap ketidakadilan atau penderitaan di sekitar kita: memilih untuk tinggal di zona nyaman tanpa terlibat dalam usaha untuk memperbaiki dunia sesuai dengan nilai-nilai Kristiani.
- Godaan ego dan kesombongan rohani:
- Menjadi sombong secara rohani, merasa diri lebih suci, dan lupa bahwa segala yang kita lakukan adalah karena kasih karunia Tuhan, bukan semata-mata hasil usaha kita.
- Terpengaruh oleh lingkungan dan akhirnya menyerah pada norma-norma duniawi, seperti ketidakjujuran, ketidakadilan, atau ketidakpedulian.
Sikap dan Tindakan Kita untuk Menjadi "Garam dan Terang Dunia"
- Menunjukkan identitas keKatolikan ditengah masyarakat: contoh dalam perbuatan baik.
- Melakukan perbuatan baik kepada sesama tanpa pamrih: membantu mereka yang membutuhkan, menunjukkan kasih dan perhatian kepada orang yang sedang dalam kesulitan, serta ikut berperan aktif dalam kegiatan sosial.
- Mempraktikkan nilai-nilai Kristiani: keadilan, kejujuran dan integritas dalam pekerjaan, keluarga, serta komunitas: bersikap jujur dalam bisnis, adil dalam memberikan pelayanan, serta menghargai dan memperlakukan semua orang dengan martabat dan kasih.
- Melibatkan diri dalam karya sosial dan keadilan: kegiatan amal membantu fakir miskin, memperjuangkan keadilan sosial, dan membela hak-hak mereka yang tertindas.
- Berperan aktif dalam Gereja dan komunitas.
Injil Yohanes menegaskan Perumpamaan Yesus tentang "garam dan terang bagi dunia".
- Garam berfungsi untuk memberi rasa pada makanan.
- Sebagai garam kita diharapkan memberi rasa yang sedap dalam hidup yaitu dengan mencegah terjadinya hal-hal yang tidak kita inginkan dan merugikan kehidupan orang banyak.
- Terang berfungsi untuk menyinari kegelapan, sehingga orang tidak tersandung ketika melihat dan berjalan dengan baik.
- Sebagai terang kita menunjukkan cahaya iman dengan teladan menerangi jalan banyak orang dengan suri teladan, dari sikap dan tingkah laku kita, dari perkataan dan perbuatan kita orang mendapatkan cahaya yang menuntun mereka berjalan di jalan yang baik dan benar.
- Menjadi teladan dalam perbuatan baik: Melakukan perbuatan baik kepada sesama tanpa pamrih, seperti membantu mereka yang membutuhkan, menunjukkan kasih dan perhatian kepada orang yang sedang dalam kesulitan, serta ikut berperan aktif dalam kegiatan sosial. Mempraktikkan nilai-nilai Kristiani seperti keadilan, kejujuran, dan integritas dalam pekerjaan, keluarga, dan komunitas. Misalnya, dengan bersikap jujur dalam bisnis, adil dalam memberikan pelayanan, serta menghargai dan memperlakukan semua orang dengan martabat dan kasih.
- Melibatkan diri dalam karya sosial dan keadilan: Terlibat dalam kegiatan amal, seperti membantu fakir miskin, memperjuangkan keadilan sosial, dan membela hak-hak mereka yang tertindas. Gereja Katolik memiliki tradisi panjang dalam karya sosial, dan kita diundang untuk melanjutkan karya cinta kasih ini.
- Berperan aktif dalam Gereja dan komunitas: Mengikuti kegiatan di paroki/stasi/lingkungan, komunitas rohani, dan organisasi Katolik, serta melibatkan diri dalam pelayanan liturgi, pendidikan iman, atau karya sosial yang diselenggarakan oleh gereja.
- Menghormati kehidupan dan martabat setiap orang: Menolak segala bentuk diskriminasi, kekerasan, dan ketidakadilan terhadap sesama. Sebagai orang Katolik, kita dipanggil untuk menghormati martabat setiap orang, baik dalam hubungan pribadi maupun di tempat kerja atau masyarakat.
- Kehidupan doa dan kedekatan dengan Tuhan: Memperdalam hubungan dengan Tuhan melalui doa pribadi, mengikuti sakramen, terutama Ekaristi dan Pengakuan Dosa, serta merenungkan Kitab Suci. Hidup doa yang kuat memberikan kekuatan rohani untuk menjadi saksi Kristus yang otentik.
Posting Komentar