Pada banyak kesempatan,
metodologi yang biasa digunakan oleh guru untuk mendorong siswa-siswinya membaca tidak efektif. Dalam banyak
kasus cara guru mempraktikkan kebiasaan membaca adalah menyediakan bacaan wajib, membuat ringkasan, dll.
Cara di atas berpengaruh secara signifikan pada kurangnya minat
siswa (Indonesia) dalam membaca. Oleh karena itu, penting bagi guru untuk memperbarui strategi dan menggunakan
strategi lain yang didasarkan pada kebiasaan membaca dan berinteraksi dengan teks.
Guru juga dapat melakukan penyelidikan
pengetahuan dari preferensi buku dari siswa-siswinya.Tujuannya adalah menggunakan metodologi inovatif
yang benar-benar mendorong minat membaca.
Di titik inilah pentingnya memiliki guru yang terlatih dan memenuhi syarat untuk mendorong kebiasaan membaca anak. Sejalan dengan itu, seorang guru harus menjunjung tinggi penggunaan gambar digital
untuk meningkatkan strategi motivasi membaca.
Teknologi informasi dan komunikasi (TIK)
menawarkan berbagai kemungkinan yang sangat berguna untuk mendorong pertemuan membaca. Melalui produk yang dinamis, interaksi antara pembaca dan buku difasilitasi, yang menciptakan
ikatan yang lebih kuat di antara mereka.
Pengalaman membaca siswa harus diperkaya dengan skenario
baru yang dekat dengan minat baca siswa. Hal ini sangat membantu mempromosikan kebiasaan membaca. Demikianlah TIK turut berdampak signifikan pada praktik membaca
pelajar abad ini.
Generasi Z menghabiskan banyak waktu di depan layar (smartphone), sehingga mereka sering
tertarik pada format bacaan baru yang sangat mereka kenal. Untuk alasan ini, TIK dapat menjadi
alat motivasi bagi calon pembaca generasi ini.
Posting Komentar