PENASINERGI - Melalui strategi pembelajaran yang tepat dan sesuai jenjang pendidikan, karakter siswa yang inovatif dan kritis dapat dibentuk.
Di jenjang pendidikan awal (PAUD dan SD), idealnya siswa tidak dibebani aktivitas pembelajaran, melainkan dengan aktivitas bermain, saat di mana mereka membangun fondasi karakter mereka. Dengan mengajak siswa bermain dan bersenang-senang mereka akan menyadari bahwa sekolah adalah tempat yang menyenangkan. Mereka pun tak merasa terpaksa datang ke sekolah.
Di titik ini, para guru tak semestinya membebani siswa PAUD dengan pelajaran menulis, membaca dan menghitung; atau anak SD dengan PR yang sangat banyak. Siswa SD juga tetap harus merasakan kebebasan. Maka, jauh lebih efektif ketika anak kelas I-IV SD diajari mengenal huruf, kata, atau kalimat yang sederhana secara bertahap. Bukan malah dipaksa harus sudah lancar membaca.
Di titik inilah guru harus kreatif menciptakan aktivitas belajar di kelas dengan suasana rileks, misalnya, lewat permainan. Pelajaran di tahap ini merupakan fondasi pembangunan karakter siswa mulai dibentuk. Dan disaat sudah memiliki fondasi yang kuat, ke depan siswa akan mampu berpikir rasional, inovatif, dan kritis.
Setelah mengenal mata pelajaran dasar, seperti struktur kalimat atau konsep perkalian di kelas I-IV, maka di kelas V-VI SD siswa bisa diajari tentang rasionalitas dari mata pelajaran tersebut. Anak kelas V-VI juga harus mulai dibiasakan saling berdebat dan berimajinasi dengan menyampaikan hal-hal yang tidak logis.
Baru pada jenjang sekolah menengah pertama (SMP) hingga sekolah menengah atas (SMA), siswa bisa dikenalkan tentang mata pelajaran eksakta. Siswa SMP juga sudah harus lebih mahir berdebat dibanding SD. Kelas perdebatan siswa SMP harus dibuat semakin rasional.
Berdebat dan berdiskusi menjadi penting bagi generasi muda di jaman ini, baik generasi Z maupun generasi Alfa. Karakter siswa pada generasi Z dan Alfa adalah mudah bosan sehingga guru didorong lebih kreatif untuk membuat kelas menjadi atraktif.
Selanjutnya, untuk membentuk mental dan moral siswa, guru dan orangtua harus berkomunikasi secara intensif. Keduanya bisa bekerja sama dalam hal pengaturan jam belajar atau pembatasan penggunaan gawai, misalnya.
Mental yang mesti ditanamkan kepada semua siswa adalah bekerja keras, tidak mudah menyerah dan tidak merasa rendah diri. Karakter ini amat mendasari pembangunan sumber daya manusia (SDM).
Karakter ini akan lebih mudah dicapai apabila guru mampu menerapkan pendidikan berbasis contoh dibandingkan pembelajaran yang melulu teori. Kenyataannya, materi yang diajarkan guru di bangku sekolah sulit diamalkan secara konsisten oleh para siswa dalam kehidupan sehari-hari.
Selain itu, penting bagi guru untuk menularkan karakter adaptif dan responsif kemajuan teknologi terhadap siswa. Salah satu responsnya adalah dengan mengembangkan inovasi dan kreativitas. Diharapkan, kreativitas yang dikembangkan guru tersebut bisa ditularkan kepada siswa.
Salah satu cara menularkan kreativitas kepada siswa adalah memberi konteks pada materi pembelajaran. Artinya, materi pelajaran bisa dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari. Misalnya, saat memberikan materi tentang fungsi limit, untuk mempermudah pemahaman, siswa bisa diminta membayangkan sensor belakang mobil saat melakukan parkir. Contoh lainnya adalah materi tentang momentum meminta siswa berimajinasi tentang berfungsinya kantong udara (airbag) mobil.
Dengan begitu, siswa mampu mengimajinasikan materi yang tengah dipelajari menjadi sesuatu yang bisa mereka buat.
Baru pada jenjang sekolah menengah pertama (SMP) hingga sekolah menengah atas (SMA), siswa bisa dikenalkan tentang mata pelajaran eksakta. Siswa SMP juga sudah harus lebih mahir berdebat dibanding SD. Kelas perdebatan siswa SMP harus dibuat semakin rasional.
Berdebat dan berdiskusi menjadi penting bagi generasi muda di jaman ini, baik generasi Z maupun generasi Alfa. Karakter siswa pada generasi Z dan Alfa adalah mudah bosan sehingga guru didorong lebih kreatif untuk membuat kelas menjadi atraktif.
Selanjutnya, untuk membentuk mental dan moral siswa, guru dan orangtua harus berkomunikasi secara intensif. Keduanya bisa bekerja sama dalam hal pengaturan jam belajar atau pembatasan penggunaan gawai, misalnya.
Mental yang mesti ditanamkan kepada semua siswa adalah bekerja keras, tidak mudah menyerah dan tidak merasa rendah diri. Karakter ini amat mendasari pembangunan sumber daya manusia (SDM).
Karakter ini akan lebih mudah dicapai apabila guru mampu menerapkan pendidikan berbasis contoh dibandingkan pembelajaran yang melulu teori. Kenyataannya, materi yang diajarkan guru di bangku sekolah sulit diamalkan secara konsisten oleh para siswa dalam kehidupan sehari-hari.
Selain itu, penting bagi guru untuk menularkan karakter adaptif dan responsif kemajuan teknologi terhadap siswa. Salah satu responsnya adalah dengan mengembangkan inovasi dan kreativitas. Diharapkan, kreativitas yang dikembangkan guru tersebut bisa ditularkan kepada siswa.
Salah satu cara menularkan kreativitas kepada siswa adalah memberi konteks pada materi pembelajaran. Artinya, materi pelajaran bisa dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari. Misalnya, saat memberikan materi tentang fungsi limit, untuk mempermudah pemahaman, siswa bisa diminta membayangkan sensor belakang mobil saat melakukan parkir. Contoh lainnya adalah materi tentang momentum meminta siswa berimajinasi tentang berfungsinya kantong udara (airbag) mobil.
Dengan begitu, siswa mampu mengimajinasikan materi yang tengah dipelajari menjadi sesuatu yang bisa mereka buat.
Di titik ini, khususnya di era Revolusi Industri 4.0, seorang guru mutlak meningkatkan minatnya untuk membaca, menulis, menyimak, bertutur, dan menghitung demi literasi siswa. Hal itu penting agar budaya menulis siswa sekolah dasar hingga menengah mampu terbentuk.
Budaya menulis juga bisa dilakukan dengan cara mengajak anak menyimak penjelasan guru dan menuliskannya poin-poin penting. Poin-poin tersebut kemudian bisa disampaikan di depan umum untuk melatih siswa bertutur secara baik.
Penulis : Lusius Sinurat
Budaya menulis juga bisa dilakukan dengan cara mengajak anak menyimak penjelasan guru dan menuliskannya poin-poin penting. Poin-poin tersebut kemudian bisa disampaikan di depan umum untuk melatih siswa bertutur secara baik.
Penulis : Lusius Sinurat
Posting Komentar